Pages

Jumat, 14 Februari 2014

Tawadhu

TAWADHU


A.  Pengertian Tawadhu
Tawadhu adalah seorang yang mengerti kedudukan dirinya dan menjauhi sifat takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia, sebagaimana sabda Nabi saw dalam hadits yang diriwayatkan Muslim bahwa: ”Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang”. Yakni menolak kebenaran dan merendahkan manusia dalam segala persoalan mereka.
Tawadhu pada asalnya adalah untuk orang besar yang dikhawatirkan merasa besar dalam pandangan matanya sendiri, maka saat itu dikatakan padanya: “Meredahlah, niscaya kau jadi seperti bintang yang nampak di atas permukaan air oleh si pemandang padahal ia tinggi.” Adapun orang biasa, maka tidak dikatakan padanya: “Tawadhulah”, tetapi dikatakan padanya “kenalilah kedudukanmmu, dan jangan letakan ia pada selain tempatnya”.
Dan di antara sikap tawadhu adalah:
  1. 1. Berlaku tawadhu terhadap sahabat-sahabatnya
Sering terjadi, perselisihan yang timbul di antara kawan dan musuh adalah disebabkan karena semangat munafasah (rivalitas) dan tahaasud (saling dengki). Boleh jadi karena seseorang merasa lebih tinggi daripada kawannya. Kadang semangat munafasah atau tahaasud tersebut muncul dalam bentuk rupa: Nasehat, pelurusan dan catatan komentar”. Jika perkara-perkara ini dinamai dengan nama-nama aslinya, niscaya akan dikatakan sebagai “kecemburuan”.
Allah swt telah berfirman:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (QS. Asy-Su’araa : 214)


“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. ,” (QS. Asy-Su’araa : 215)
Setelah memerintahkan Nabi Muhammad saw, menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat di atas berpesan lagi kepada beliau bahwa: Hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka Allah, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih, dan rendahkanlah dirimu yakni lemah lembut dan rendah hatilah terhadap orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikutimu, yaitu orang-orang mukmin baik kerabatmu maupun bukan.
Bagi Ibn ‘Asyur ayat ini tertuju kepada nabi Muhammad saw, Ia adalah uraian khusus setelah ayat sebelumnya merupakan urutan umum menyangkut siapa saja. Demikian tulisannya.
Kata ‘asyarah berarti anggota suku yang terdekat. Ia terambil dari kata ‘asyara yang berarti saling bergaul, karena anggota suku yang terdekat adalah keluarga orang-orang yang sehari-hari saling bergaul.
Kata al-aqrabiin yang menyifati kata ‘asirah, merupakan penekanan sekaligus guna mengambil hati mereka sebagai orang-orang dekat dari mereka yang terdekat.
Kata janaah pada mulanya berarti sayap. Pengalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan bercumbu kepada betinanya, atau melindungi anak-anaknya. Sayap terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul, serta tidak beranjak meninggalkan tempat dalam keadaan demikian sampai berlalunya bahaya. Dari sini ungkapan itu dipahami dalam arti kerendahan hati, hubungan harmonis dan perlindungan serta ketabahan dan kesabaran bersama kaum beriman, khususnya pada saat-saat sulit dan krisis.
Kata ittaba’aka / mengikutimu yakni dalam melaksanakan tuntunan agama . Ibn ‘Asyur memahami kata ini dalam arti “beriman”, sedang penyebutan kata al-mu’miniin menurutnya adalah untuk menjelaskan mengapa Nabi saw, diperintahkan untuk berendah diri kepada mereka, seakan-akan ayat ini berkata: “Hadapilah mereka dengan kerendahan hati karena keimanan mereka.” Demikian Ibn ‘Asyur.
Az-Zamakhsyari mempertanyakan mengapa kata muminiin dikemukakan lagi padahal telah ada sebelumnya kata “yang mengikutimu”? Bukankah yang mengikuti beliau adalah mukmin dan yang mukmin pasti mengikuti beliau? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri dengan dua kemungkinan jawaban. Pertama, yang dimaksud dengan  orang-orang mukmin adalah yang akan beriman. Ayat ini – menurutnya – menamai mereka demikian, karena mereka sedah hampir beriman. Kemungkinan jawaban kedua, orang-orang mukmin dimaksud adalah yang beriman dengan lidahnya. Mereka ini ada dua kelompok, ada yang membenarkan Rasul saw, dan mengikuti ajaran beliau, dan ada juga yang hanya beriman dan membenarkan saja. Kelompok ini ada juga yang fasik. Terhadap keduanya tidak perlu di hadapi dengan kerendahan hati. Demikian Az-Zamakhsyari.
Al-Biqa’i, sebelum menjelaskan pandangannya, terlebih dahulu menggarisbawahi asal dari kata ittaba’aka yaitu tabi’a yang kemudian dibubuhi huruf ta’ yang mengandung makna kesungguhan. Menurutnya penambahan itu, untuk mengeluarkan orang-orang yang belum beriman, atau hanya beriman secara lahiriah, atau lemah imannya dan munafik, dan arena itu – tulis al-Biqa’i – lafadz itu dilanjutkan dengan penjelasan yaitu minal mu’miniin dari orang-orang mukmin yang telah mantap imannya.
Ada kesan lain yang lebih baik, yaitu kesan yang dikemukakan oleh Sayyid Quthub – bukan ketika menafsirkan ayat ini, tetapi ketika menafsirkan QS. Al-A’raaf {7}: 158 yang memerintahkan Nabi Muhammad saw, menyampaikan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah Yang Maha Esa. Ayat ini berlanjut dengan firman-Nya “maka berimanlah kepada Allah dan rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” Ketika menafsirkannya, Sayyid Quthub menggarisbawahi tiga catatan penting. Salah satu di antaranya adalah yang merupakan konsekuensi dari perintah beriman yaitu firman-Nya: “Ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. Dengan demikian – tulis ulama yang syahid itu: “Agama ini bukan sekadar akidah yang bersemai di dalam hati, bukan juga sekadar syiar-syiar agama atau ritual, tetapi agama ini adalah ikutan secara sempurna kepada rasulullah saw, menyangkut apa yang beliau sampaikan dari Tuhannya dan apa yang beliau syariatkan dan sunnahkan. Beliau menyampaikan syariat Allah dengan ucapan dan perbuatan beliau.” Agama Islam tidak lain kecuali apa yang digambarkan oleh penggalan terakhir ini ayat: ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk setelah sebelumnya memerintahkan agar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seandainya agama ini semata-mata hanya akidah saja, maka tentu cukup sudah bila ayat di atas berhenti pada firman-Nya. Fa aaminu billahi wa rusuulihi / maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian tulis Sayyid Quthub dengan sedikit penyingkatan.
Ketika ayat ini turun, Rasul saw, naik ke puncak bukit Shafa di Mekah, lalu menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar ‘Ady dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim utusan. Abu lahab pun datang, lalu Nabi saw, bersabda: “Bagaimana pendapat kalian, jika aku berkata bahwa di belakang lembah itu ada pasukan berkuda bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?” Mereka berkata : “Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran.” Lalu Nabi bersabda: “Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih.” Abu Lahab yang mendengar sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi saw, berkata: “Celakalah engkau sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah surah Tabbat yadaa Abii Lahab” (HR. Bukhari-Muslim, Ahmad dan lain-lain melalui Ibn Abbas)
Riwayat lain mengatakan bahwa ketika itu Nabi saw, bersabda: “Wahai suku Quraisy, tebuslah dari kamu. Aku tidak dapat membantu kamu sedikit pun di hadapan Allah; Wahai Shafiah (saudara perempuan ayah Rasulullah) aku tidak dapat membantumu sedikit pun di hadapan Allah; Wahai ‘Abbaas putra Abdul Muthalib, aku tidak dapat membantumu sedikit pun di hadapan Allah; Wahai Fathimah putri Muhammad, mintalah apa yang engkau kehendaki dari hartaku, aku tidak dapat membantumu sedikit pun di hadapan Allah” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’I dan lain-lain melalui Abu Hurairah).
Demikian ayat ini mengajarkan kepada Rasul saw, dan umatnya agar tidak mengenal pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti nabi saw, dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada Rasul saw, karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang mulia.

  1. 2. Berlaku tawadhu pada orang yang ada di bawah tingkatanmu
Apabila kamu menemui seseorang yang lebih muda umurnya darimu, atau lebih rendah kedudukannya darimu, maka janganlah kamu meremehkanya. Boleh jadi orang tadi lebih sehat hatinya daripadamu, atau lebih sedikit dosanya daripadamu, atau lebih besar taqarubnya kepada Allah daripadamu.
Bahkan sekiranya kamu melihat seorang fasik dari kamu kelihatan lebih shaleh daripadanya, maka janganlah kamu berlaku sombong terhadapnya. Pujilah Allah lantaran Dia telah menyelamatkanmu dari ujian yang Dia berikan padanya, dan hendaknya kamu senantiasa ingat bahwa boleh jadi dalam amal-amal shalehnu terdapat unsur riya dan ujub yang bisa menghapuskannya, atau boleh jadi pada diri pendosa tersebut terdapat rasa penyesalan. Perasaan remuk redam dan ketakutan terhadap dosa-dosanya, yang bisa menjadi  sebab diampunkannya dosa-dosanya.
Dari Jundab ra, bahwa rasulullah saw, bersabda: “Ada seorang lelaki yang berkata: “Demi Allah, Alah tidak akan mengampuni si fulan” Lantas Allah ta’ala berfirman: “Siapa gerangan yang berani bersumpah atas nama-Ku kalau Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku ampuni si fulan dan Aku hapuskan amal-amal  (baik)mu.
Jadi kamu jangan bersikap sombong terhadap seseorang, bahkan sekiranya kamu melihat orang fasik, maka kamu jangan merasa lebih tinggi darinya, atau kamu mempergaulinya dengan sikap seorang yang sombong.
Allah swt, telah berfirman:


“Janganlah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Hjr: 88)

Boleh jadi apa yang ditegaskan oleh ayat yang lalu tentang tujuan penciptaan langit dan bumi, menimbulkan pertanyaan: mengapa kaum musyrikin dapat bergelimang dalam kenikmatan hidup, padahal mereka mendurhakai Allah? Mengapa mereka yang telah diancam oleh Allah, masih dibiarkan dan diulur dengan aneka kenikmatan? Nah, ayat ini menjawab pertanyaan yang timbul dalam benak itu. Demikian Thahir Ibn Asyur. Dan itu pula sebabnya – tulisnya lebih jauh – ayat ini tidak menggunakan kata wa / dan sebelum kata laa tanuddanna karena jika didahului oleh dan – sebagaimana dalam QS. Thaha [20]: 131 walaa tamuddanna – maka ia sekedar sebagai larangan yang tidak mempunyai hubungan dengan ayat sebelumnya.
Dapat juga dikatakan bahwa karena apa yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada Nabi Muhamad saw, begitu juga apa yang dianugrahkan –Nya kepada beliau sedemikian besar, maka sangat wajar jika beliau diingatkan agar janganlah sekali-kali engkau mengarahkan matamu yakni jangan memberi perhatian yang besar serta tergiur kepada apa yang dengannya kami telah senangkan untuk sementara lagi cepat berlalunya untuk golongan-golongan di antara mereka orang-orang kafir itu, karena apa yang mereka peroleh dan cara penggunaannya adalah batil dan bukan “haq”, dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka karena keengganan mereka beriman, atau akibat jatuhnya siksa atas mereka dan kesudahan buruk yang akan mereka alami. Adapun terhadap sesama kaum beriman, maka jalinlah hubungan harmonis dengan mereka dan rendahkanlah sayapmu yakni bersikap rendah hatilah kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah kepada mereka yang durhaka itu bahkan kepada semua orang bahwa ”Aku tidak akan bersedih dan marah karena orang-orang kafir menolak ajaran yang kusampaikan, karena sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada siapa pun yang durhaka atau tenggelam dalam kenikmatan duniawi dengan melupakan akhiratnya.” Pesan ayat ini harus dipahami sejalan dengan firman-Nya dalam QS. Al-Qashash [28]: 77: “Carilah melalui apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangan lupakan nasibmu dari (kenikmatan) dunia, serta berbuat baiklah karena Allah telah berbuat kepadamu.”
Kata tamuddanna terambil dari kata madda yang berarti memperpanjang atau menambah. Memang mata tidak dapat diperpanjang tetapi dia dapat diarahkan karena kata ini di sini berarti mengarahkan.
Kata azwaaj adalah bentuk jamak zauj yang berarti pasangan. Pasangan adalah satu yang menggenapakan dua hal berbeda tetapi keberpasangan menjadikannya menyatu dalam fungsi dan tujuan. Yang dimaksud adalah pasangan-pasangan kekufuran, khususnya tokoh-tokohnya. Mereka, walaupun berbeda-beda, tetapi menyatu dalam kedurhakaan kepada Allah swt. Ada juga yang memahami kata tersebut dalam arti pasangan suami istri. Memang kenikmatan akan semakin sempurna jika kehidupan duniawi dinikmati oleh sepasang pria dan wanita, tetapi sekali lagi hanya keikmatan semu bila tdak disertai oleh haq.
Kata janaah pada mulanya berarti sayap. Pengalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan bercumbu kepada betinanya, atau melindungi anak-anaknya. Sayap terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul, serta tidak beranjak meninggalkan tempat dalam keadaan demikian sampai berlalunya bahaya. Dari sini ungkapan itu dipahami dalam arti kerendahan hati, hubungan harmonis dan perlindungan serta ketabahan dan kesabaran bersama kaum beriman, khususnya pada saat-saat sulit dan krisis. Al-Quran yang dianugrahkan itu, serta sikap tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi sebagaimana halnya orang durhaka, merupakan bekal yang sangat berharga untuk melaksanakan tuntunan Allah swt, di atas antara lain memberi pemaafan yang baik kepada kaum pendurhaka itu.
Kata ana / aku setelah sebelumnya telah disebut kata innii yang bermakna sesungguhnya aku, mengandung makna pengkhususan yakni aku hanyalah – tidak lebih dari itu – dan karena Rasul saw, juga tidak hanya berfungsi sebagai pemberi peringatan, tetapi juga pemberi kabar gembira, maka pemberi peringatan yang dimaksud tertuju hanya kepada para pendurhaka saja.
  1. 3. Jangan sampai amalmu nampak besar dalam pandangan matamu, apabila kamu berbuat kebaikan, atau kamu melakukan taqarrub kepada Allah dengan satu ketaatan, sebab bisa jadi amal kebaikan tersebut tidak diterima
Dan di antara sikap tawdhu adalah kamu mau mendengar nasehat, karena syetan akan menghasutmu untuk menolaknya dan berprasangka buruk terhadap si pemberi nasehat. Oleh karena makna nasehat adalah saudaramu mengatakan padamu: “Sesungguhnya pada dirimu ada aib begini dan begitu”. Adapun orang yang dilindungi Allah maka bila ada yang menasehatinya dan menunujukan aib-aibnya, maka dia akan menundukkan nafsyunya, menerima nasehatnya, mendo’akannya dan berteriama kasih kepadanya.
Jadi orang sombong adalah orang yang merasa dirinya besar, hampir-hampir tak mau memuji seseorang atau menyebut kebaikannya. Dan jika terpaksa harus menyebut kebaikan orang, maka dia membubuinya dengan menyampaikan sebagian dari aib-aib kekurangannya. Adapun jika dia mendengar orang lain menyebut sebagian dari aibnya, maka mana mungkin, mana mungkin dia mau kembali segera atau bersikap lunak. Sikap yang demikian itu adalah dikarenakan perasaan rendah dirinya. Maka dari itu, termasuk di antara kesempurnaan pribadi manusia adalah dia menerima kritik dan komentar tanpa rasa cemas atau perasaan malu dan rendah diri. Inilah dia Amirul Mu’miniin ‘Umar bin Khatab, mengusung bendera dan meninggikan syi’ar: “Semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukan aib kekuranganku.”
Allah swt, telah berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.” (QS. Al-Israa: 37-38)
Al-Biqa’i menekankan tanggung jawab pendengaran, penglihatan dan hati yang disebut oleh ayat yang lalu terutama dalam penggunaannya sebagai alat-alat ilmu pengetahuan, dari sini pakar hubungan antar ayat ini berpendapat bahwa ayat 37 ini menampilkan larangan angkuh, karena keangkuhan merupakan aral yang paling besar dalam memperoleh ilmu yang mengantar kepada kebajikan serta penyakit parah yang melahirkan kebodohan sehingga mengantar pelakunya menuju kejahatan.
Anda juga dapat berkata bahwa setiap larangan yang disebut dalam kelompok ayat-ayat ini saling berhubungan. Ia dihubungkan oleh keadaannya sebagai keburukkan yang dipraktekkan dalam masyarakat jahiliah, sehingga satu demi satu disinggung silih berganti.
Allah swt, berfirman melanjutkan larangan-larangan yang lalu bahwa: Dan janganlah engkau – siapa pun engkau – berjalan di muka bumi ini dengan penuh kegembiraan yakni kegembiraan yang menghasilkan keangkuhan dan menjadikanmu merasa yang terbesar. Itu hanya dapat engkau lakukan jika engkau benar-benar dapat hidup sendiri tanpa bantuan siapa dan apapun, padahal tidak satu makhluk pun dapat menjadi demikian. Sungguh engkau adalah makhluk lemah, karena sesungguhnya meskipun engkau berusaha sekuat tenaga dan menyombongkan diri  sebesar apapun engkau yakni kakimu sekali-kali tidak dapat menembus bumi walau sekeras apapun hentakannya dan meskipun engkau telah merasa setinggi apapun sekali-kali engkau yakni kepalamu tidak akan sampai setinggi gunung. Nah, jika demikian, mengapa engkau sombong? Semua itu yakni hal-hal terlarang yang disebut sebelum ini adalah keburukan yang kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu yang selama ini selalu berbuat baik kepadamu, sehingga seharusnya engkau mensyukurinya dan mengindahkan tuntunan-Nya.
Thabaathabaa’i memahami ayat 37 di atas dalam arti kiasan, yakni kesombongan yang engkau lakukan untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu pada hakikatnya adalah hanya waham dan ilusi, sebab sebenarnya ada yang lebih kuat dari engkau yakni bumi, terbukti kakimu tidak dapat menembus bumi, dan ada juga yang lebih tinggi darimu yakni gunung, buktinya engkau tidak setinggi gunung. Maka akuilah bahwa engkau sebenarnya rendah lagi hina. Tidak ada sesuatu yang dikehendaki dan diperebutkan manusia dalam hidup ini seperti kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, harta benda dan lain-lain kecuali hal-hal yang bersifat waham yang tidak mempunyai hakikat di luar batas pengetahuan manusia.. Itu semua diciptakan dan ditundukkan Allah untuk diandalkan manusia guna memakmurkan bumi dan penyempurnaan kalimat (ketetapan) Allah. Tanpa hal yang tidak memiliki hakikat itu, manusia tidak hidup di dunia, dan kalimat Allah yang menyatakan: “Bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan matha (Kesenangan hidup) sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah [2] : 36). Demikian lebih kurang Thabaathabaa’i.
Firman-Nya kullu dzaalikai dipahami oleh sementara ulama sebagai mencakup dua puluh lima tuntunan. 1) jangan menjadikan bersama Allah tujuan yang lain. 2) Dan Tuhanmu telah menetapkan supaya jangan menyembah selain Dia. Penggalan ini menyangkut dua tuntunan, pertama mengesakan Allah dan kedua melarang mempersekutukan-Nya. 3) Dan hendaknya (kamu berbakti) kepada ibu-bapak. 4) Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” 5) Janganlah kamu membentak keduanya 6) ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. 7) Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua. 8) Ucapkanlah: “Tuhanku! Kasihilah keduanya. 9) Berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya. 10) Juga berikan kepada orang miskin. 11) Dan kepada yang dalam perjalanan. 12) jangan menghambur secara boros. 13) Katakanlah ucapan yang mudah. 14) Jangan jadikan tanganmu terbelenggu. 15) Jangan terlalu mengulurkannya. 16) Jangan membunuh anak-anakmu. 17) Jangan mendekati zina. 18) Jangan membunuh jiwa. 19) Jangan melampaui batas dalam membunuh. 20) Janganlah kamu mendekati harta anak yatim. 21) Sempurnakan janji. 22) Sempurnakan timbangan. 23) Timbanglah dengan adil. 24) Jangan mengikuti apa yang tiada bagimu pengetahuan. 25) Jangan berjalan di bumi dengan sombong. Semua yang disebut di atas adalah  tuntunan yang pelanggarannya merupakan keburukan yang dibenci oleh Allah swt.

Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar


Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:
1- Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah: a- Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. b-Mengucapkannya dengan lisan. c-Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.
Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi
2- Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal: a-Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. b-Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. c-Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ thd keputusan Allah.
Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.
Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.
Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.
Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?” (QS. Az Zumar: 36).
Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا
(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)” (QS. Al Isra’: 65).
Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.
Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.
dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:
3- Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”. Bagaimana kok begitu? Bila ALlah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.
Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.
DALAM sebuah buku yang berjudul “Jihad al-Nafs” karya Ayatullah Mazhahiri (Beirut: Al-Mahijjah Al-Baidha, 1993, hal. 69-70) diceritakan bahwa pada masa Rasulullah SAW, ada seorang istri sholihah yang memiliki anak kecil yang sakit.
Ketika suaminya bekerja di tempat jauh, anaknya itu wafat. Istri itu duduk dan menangisi kepergian anaknya itu. Tiba-tiba ia berhenti menangis dan sadar bahwa sebentar lagi suaminya pulang ke rumah. Ia bergumam, jika saya menangis terus di samping jenazah anakku ini, kehidupan tidak akan dikembalikan kepadanya dan akan melukai perasaan suamiku. Padahal ia pulang dalam keadaan lelah. Ia cepat-cepat meletakkan anaknya yang wafat itu pada suatu tempat.
Datanglah suaminya itu dari tempat kerjanya. Sang istri pun menyambutnya dengan senyum dan penuh kasih sayang. Ia sediakan makanan kesukaannya dan membasuh kaki suaminya itu.
”Mana anak kita yang sakit?” tanya suami. Istrinya menjawab, “Alhamdulillah ia sudah lebih baik.” Sang istri mengajak suaminya untuk tidur hingga terbangun menjelang waktu subuh. Sang suami bangun, mandi, dan shalat sunah. Saat suami akan berangkat ke mesjid untuk shalat shubuh berjamaah, istrinya berkata dengan tenang, “Suamiku aku ingin menyampaikan sesuatu padamu”.
“Silahkan, sebutkan,” kata suaminya. Sang istri pun berkata, “Jika ada yang menitipkan amanat kepada kita, lalu pada saatnya diambil dari kita, bagaimana pendapatmu jika amanat itu kita tahan dan kita tidak mau memberikan kepadanya?”
“Itu perbuatan paling akhlak yang buruk dan bisa disebut khianat dalam beramal. Itu merupakan perbuatan yang sangat tercela. Kita wajib mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya bila dminta,” jawab suaminya.
“Sudah tiga tahun, Allah menitipkan amanat kepada kita. Hari kemarin, dengan kehendak-Nya, Allah mengambil amanat itu dari kita. Anak kita sekarang wafat. Ia ada di kamar sebelah. Sekarang berangkatlah engkau dan lakukanlah shalat,” timpah sang Istri.
Suami itu melihat anaknya dan kemudian pergi ke masjid untuk shalat berjamaah di masjid Nabi. Seusai suami itu mengkabarkan kematian anaknya. Nabi Muhammad SAW langsung mendekatinya seraya berkata, “Diberkatilah malam kamu yang tadi itu. Malam ketika suami istri bersabar dalam menghadapi musibah”.
Begitulah seharusnya menyikapi ujian. Yakni dengan bersabar dan tawakal kepada Allah. Namun tidak semua orang bisa memiliki kecerdasan emosional yang tinggi seperti pasangan tersebut.
Arti Sabar
Definisi sabar menurut sufi ternama Dzun-nun Al-Mishri, “Sabar ialah menajuhi perselisihan, bersikap tenang dalam menghadapi cobaan yang menyesakkan hati, dan menampakkan rasa kecukupan ketika ditimpa kesusahan dalam kehidupan”. Sedikit berbeda dengan Ar-Raghib Al-Ashfihani, yang mengatakan bahwa sabar memiliki makna yang berbeda sesuai dengan konteks kejadiannya. Menahan diri saat ditimpa musibah dinamakan shabr (sabar), sedangkan lawan katanya jaza’ (gelisah, cemas, risau), menahan diri dalam peperangan dinamakan syaja’ah (keberanian) dan lawan katanya jubn (pengecut, lari dari peperangan), menahan diri dari kata-kata kasar disebut kitman (diam) dan lawan katanya ihdzar/hadzar (mengecam, marah). Namun secara umum, semua yang berkaitan dengan menahan biasanya dikategorikan sabar.

Keutamaan Sabar
Mengenai sabar, Allah SWT berfirman
يها الذين ءامنوا اصبروا ورابطواواتقواالله لعلكم تفلحونيا
“wahai sekalian orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu sekalian dan teguhkanlah kesabaranmu itu dan tetaplah bersiap siaga” (Q.S. Ali Imran : 200).
Ayat ini memerintahkan untuk bersabar dalam menjalani ketaatan ketika mengalami musibah, menahan diri dari maksiat dengan jalan beribadah dan berjuang melawan kekufuran, serta bersiap siaga penuh untuk berjihad di jalan Allah SWT.Dalam Al-Quran
انما يوفى الصبرون اجهرهم بغير حساب
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas” (Q.S. Az-Zumar:10).
Tentang ayat ini, Sayyidina Ali bin Abu Thalib menerangkan, setiap orang yang mencapai derajat muthi’ (orang yang taat), kelak akan ditimbang amalnya dengan timbangan atau takaran. Berbeda dengan orang yang berderajat shabir (orang yang sabar), mereka ini mengeruk pahala laksana mengeruk debu yang tidak terhitung jumlahnya.
Sungguh luar biasa derajat orang sabar. Selain mendapatkan pahala yang besar, juga dikatakan sebagai bagian dari iman. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Ad-Dailami dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
الصبر نصف الايمان
“Kesabaran adalah setengah dari iman”.
Begitulah keutamaan dan pentingnya bersabar, termasuk dalam menjalankannya. Insya Allah, setiap kali kita bersabar atas sesuatu yang tidak kita kehendaki dan bersabar atas apa yang belum kita kehendaki, pasti berbuah pahala dan hikmah yang tak ternilai.

Pengertian Dan Macam-macam Sabar

PENGERTIAN SABAR

Sabar berasal dari kata “صبر  -  يصبر yang artinya menahan. Dan menurut istilah para ulama anta lain :
¤     Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
 “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah”
Dari pendapat di atass dapat ditarik kesimpulan bahwa sabar adalah “menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya”.
Itulah pengertian sabar yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Dan sabar ini tidak identik dengan cobaan saja. Karena menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan, atau menahan diri dari pemborosan harta bagi yang mampu juga merupakan bagian dari sabar. Sabar harus kita terapkan dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya ketika kita dalam kesulitan, tapi ketika dalam kemudahaan dan kesenangan juga kita harus tetap menjadikan sabar sebagai aspek kehidupan kita.

MACAM-MACAM SABAR

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
1.      ‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT
Menahan diri kita agar tetap istiqomah dalam menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT adalah bagian dari perintah Allah SWT. Kita harus tetap sabar menjalankan itu semua, karena Allah telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dengan baik sesuai syariat yang telah Allah SWT turunkan. Mulai dari shalat, zakat, puasa, dakwah, dan lain-lain. Itu semua harus kita jalani dengan sabar.
2.      Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah SWT
Tenar sekali salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Raja Dangdut H.Rhoma Irama dimana ada sebagian liriknya yang berbunyi “mengapa semua yang asik-asik, itu diharamkan? mengapa semua yang enak-enak itu dilarang?” karena semua itu adalah memang godaan setan yang merayu kita dengan kenikmatan-kenikmatan dunyawi. Semua kenikmatan itu hanya semua, karena jalan yang ditunjukan oleh setan itu tidaklah berakhir kecuali di neraka. Dan kita sebagi umat Islam harus bersabar dari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Yakinlah bahwa semua larangan itu pasti ada maksudnya. Tidaklah Allah SWT melarang kita untuk berbuat dosa, kecuali dalam dosa itu pasti ada sebuah kerugian yang akan didapat jika kita melakukannya.
3.      Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah SWT
Jika ada salah satu dari kita ditakdirkan dengan kondisi fisik yang kurang, maka kita juga harus tetap bersabar. Karena bersabar dengan ketentuan Allah SWT merupakan salah satu dari macam sabar. Dan balasan lain dari sabar kita itu adalah surga. Rasulallah SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT berfirman “Jika hambaku diuji dengan kedua matanya dan dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya dengan surga” (HR. Bukhori).
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang sabar dalam menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan dari apa yang telah ditakdirkan-Nya. Dan kita harus tetap melatih sifat sabar ini dalam kehidupan kita sehingga nantinya kita akan dapat menyikapi semua aspek hidup ini dengan sabar.
Sabar menahan cobaan memang bukan hal yang mudah, tapi itu juga bukan sebuah hal yang mustahil. Kedudukan orang-orang yang sabar di mata Allah SWT sangat tinggi. Kita bisa mengambil pelajaran dari sauri tauldan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah seorang penyabar, dikisahkan setelah Rasulullah wafat – Abu bakar RA mendatangi seorang pengemis Yahudi buta dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai mnyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?” Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa datang”. “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,”jawab si pengemis buta itu. “Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya, setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri”. Abubakar tidak dapat menahan airmatanya, ia menangis sambil berkata dengan pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar RA ia pun menangis dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidah pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia”. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyhadat dihadapan Abubakar RA.
Siapa yang tidak terketuk hatinya dengan kisah ini. Kita bisa melihat dari kisah diatas bagaimana Rasullah SAW begitu sabarnya dalam berdakwah dan menghadapi pengemis Yahudi itu. Walaupun Beliau disakiti dengan hinaan, fitnah, dll. Tapi Beliau tetap menunjukan kemulian akhlaknya. Dan kita sebagai umat Islam dan pengikutnya, jelaslah harus mengikuti akhlak Beliau. Dan Allah SWT juga telah memrintahkan kepada kita untuk sabar di dalam firman-Nya “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS. Al-Baqarah:45). Dalam ayat ini kata “Sabar” digandengkan dengan “shalat”, dan kita mengetahui bahwa shalat itu hukumnya wajib. Dan jika ada dua kata perintah dalam satu konteks ini maka dalam hal ini sabar juga merupakan suatu hal yang wajib. Allah SWT mewajibkan kita bersabar dalam ayat ini.
Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”
Sahabat Indonesia yang kualitas hatinya menentukan kualitas rejekinya, berikut adalah resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 22 Agustus 2010, dengan Topik “Sabar Sampai Kapan?“. Kesabaran adalah masalah hati tetapi solusi kesabaran dapat ditemukan dalam jalan2 yang terang. Dalam bahasan ini kita akan mempelajari bagaimana membangun kesabaran yang tidak lagi bertentangan dengan rasa hormat kepada diri kita; tetapi melalui cara pandang yang logis, sehingga kita menjadi pribadi yang sabar karena tujuannya jelas.
Kesabaran bukanlah sebuah sifat tetapi sebuah keputusan karena pengertian yang baik,  sebetulnya tidak ada orang yang punya sifat sabar.
Kesabaran adalah pengertian yang dibutuhkan untuk bersikap baik, selama menunggu hasil dari upaya kita. Pengertiannya karena upaya itu membutuhkan waktu untuk baik, membutuhkan do’a untuk dijawab, maka kita bersabar.
Bahwa dalam membangun kesabaran ada yang harus ditunggu, dan yang paling sering berhasil dalam proses menunggu adalah yang sibuk. Maka sibuk-lah dalam menunggu, karena semua orang sedang menunggu, dan yang paling akhir adalah menunggu kematian.Maka jadilah pribadi yang sibuk dalam menunggu supaya hasil yang didapat sesuai.Kesabaran ini tidak akan lengkap tanpa definisi berikutnya. Dalam menghadapi sebuah kesulitan, menjadikan yang tadinya sulit menjadi mudah.Contoh sederhana, jika ada rotan dan ada akar yang lebih dahulu dipakai tentunya rotan, tetapi jika tidak ada rotan maka akarlah yang dipakai.Ingatlah janji Tuhan “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”, tetapi kita manusiawi sekali untuk hanya memperhatikan kesulitan.Sehingga orang yang ramah terhadap kehidupan melihat kehidupan ini seharusnya mudah, karena tidak ada niatan Tuhan menyulitkan Kita.Jadi kalau ada kesulitan itu kita seharusnya senang, karena bersamanya ada kemudahan hanya saja kita belum lihat. Jadi kalau datang sebuah kesulitan segera palingkan wajah anda untuk melihat kemudahannya.Jadi kalau kita ikhlas, Tuhan itu memberikan kita kesulitan supaya hidup kita mudah.Setiap orang pasti menginginkan sesuatu, tetapi belum tentu setiap orang berkeinginan besar dan mempunyai rencana besar; karena banyak sekali orang tidak tahu mau jadi apa.Tuhan memiliki rencana bagi setiap jiwa dan setan sangat bersemangat menggagalkan jiwa muda yang dilahirkan dengan rencana besar. Untuk itu  setan meniupkan rasa malas ke hati anda sehingga anda gemar menunda dan ahli mengatakan tidak mungkin. Lalu bersahabat dan bergaul dengan sesama pemalas.Berapa banyak orang tua yang seharusnya sekarnag menjadi pejabat tinggi, pemuka masyarakat, yang berpengaruh tetapi memboroskan waktu hidupnya semasa muda dan sekarang menyesal. Dan berapa banyak anak muda yang meniru cara yang sama, sekarang.Semakin buruknya masalah yang mengganggu anda, menunjukan semakin besarnya rencana Tuhan bagi anda. Semakin anda direncanakan jadi orang besar, maka semakin besar pula kekuatan setan untuk menganggu anda.Pada dasarnya semua orang pemalas, tetapi yang bisa berhasil adalah yang tetap bekerja walaupun dia malas.Tidak boleh kita memaksakan sesuatu yang harusnya terjadi karena proses yang panjang dan baik, sekarang. Kita marah tentang kehidupan, karena kita minta yang seharusnya dicapai dengan proses yang baik, tetapi hasilnya sekarang. Orang yang tidak punya pilihan harus bersabar kepada satu2nya pilihan. Kalau anda tidak suka dengan satu pilihan, jadilah pribadi yang pilihannya banyak.Orang berabar itu harus cerdik, bukan masalah sifat tetapi masalah keputusan tentang pengertian yang baik.Ada yang dinamakan istilah Jangkar Prilaku, jadi semua pengertian yang baru kita terima seyogyanya segera ditransfer dalam bentuk tindakan.Orang yang pengetiannya dalam bentuk tindakan tidak lagi harus menghafal. Sehingga pikirannya terbuka luas bagi pengertian-pengertian baru.Orang yang kurang bertindak, kapasitas pikirannya cepat habis, orang yang banyak betindak dan menjadikan pengetian sebagai prilaku kesehariannya, ia tidak lagi banyak berfikir.Orang yang menjadikan do’a-do’anya sebagai prilakunya, tidak banyak lagi dia harus berdo’a karena kehidupannya adalah do’a. Sehingga dia tidak lagi melafalkan do’a secara formal tetapi berharapan besar untuk bisa membantu orang yang kekurangan, maka langsung diberikan kesempatan untuk  berejeki baik, bagi sedekah yang lebih besar.
Jika anda bertemu orang, selalu temukan cara supaya orang itu menyukai dirinya sendiri. Jika anda menemukan cara terhadap orang lain untuk melihat dirinya berdiri dibawah sinar yang lebih terang, anda akan dicintai orang, anda akan dilibatkan dalam pergaulan2 baik, anda akan lebih dicintai istri anda.
Maka mulai dari sekarang, lihatlah setiap orang sebagai target penggembiraan. Dan tanpa sadar kita membangun kekuatan diluar diri kita,untuk membantu kita menjadi pribadi yang gembira.
Kalau anda mengeluh tentang lambannya kehidupan, maka cek yang anda kerjakan. Apakah keinginan anda besar tetapi yang anda lakukan kecil?, Jika jawabannya ‘ya’ maka anda sulit bersabar.
Inginkan yang besar, perhatikan orang lain bagaimana mencapai kebesaran, ikhlaslah rayakan kehebatan orang lain, jangan dengki orang berhasil.
Iri itu bahaya, karena membuat kita dengki orang kaya, padahal tidak semua orang kaya, kaya dengan ketidak-jujuran.
Salah satu cara untuk mengenali diri dan kemudian tubuh adalah mengakui kehebatan orang lain. Dengannya kita lebih ikhlas melihat diri sebagai pribadi yang harus belajar.
Jadi kalau yang kita inginkan besar, maka tertariklah kepada orang2 yang berhasil melakukan hal2 yang besar; lalu tiru-lah dia. Meniru sesuatu sesuatu yang baik, membuat yang lemah dalam kehidupan kita lemah. Sehingga jika kita bersabar, kita bersabar dalam perjalanan naik. Bukan bersabar menyesuaikan diri dengan kelemahan.
Semua keberhasilan terbaik anda datang setelah kekecewaan yang anda hadapi dengan sabar. Jika kita sudah jujur, sudah bekerja keras, sudah patuh sama Tuhan tetapi belum berhasil, tidak ada cara lain kecuali bersabar.
Kita akan bersabar selama kesabaran dibutuhkan, sampai kapanpun tidak ada batasnya.
Tuhan berjanji “Bersama kesulitan ada kemudahan” dan janji itu diulang dua kali. Marilah kita membiasakan diri untuk menerima kesulitan dengan damai, lalu menjernihkan pikiran untuk melihat kemudahan yang datang bersama kesulitan.
Kapanpun kesulitan itu datang kepada anda, upayakanlah untuk mencari hal2 yang sekarang menjadi mudah bagi anda. Lalu perhatikan apa yang terjadi.
Rasulullah saw bersabda,"Demi Allah, saya tidak takut dengan kemiskinan kalian, akan tetapi saya takut jikalau dunia menjadi lapang bagi kalian sebagaimana umat sebelum kalian sehingga mereka saling memperebutkannya."
Gejala inilah yang nampak di tengah-tengah masyarakat kita. Sebuah pola hidup baru bagi sebuah masyarakat agraris. Gotong royong lambat laun pupus oleh egoisme individu yang berkembang. Kejujuran hilang ditutupi dengan kebohongan. Persaudaraan sulit ditemukan kecuali di dalamnya terdapat uang. Kesombongan menggeser sifat lugu, sopan, dan ketawadhuan. Perubahan cara pandang ini selanjutnya mengubah gaya hidup masyarakat.

Akan tetapi, jika masyarakat kita tidak berusaha untuk mencari kekayaan duniawi ini, masyarakat kita akan menjadi masyarakat bawah yang lemah dan mudah diombang-ambingkan. Rasulullah saw bersabda, "Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin yang lemah."  Dengan logika sederhana pun, seseorang pasti akan membenarkan hadits ini. Logika ini membentuk sebuah asumsi, jika umat ini ingin menjadi besar sudah saatnya meninggalkan idealismenya menuju pada hal-hal yang pragmatis. Kita harus membangun rumah sakit, lembaga pendidikan, panti asuhan, dan lembaga-lembaga lain yang memiliki tujuan membantu kehidupan umat. Untuk melaksanakan hal tersebut tidak mungkin terlaksana dengan finansial yang lemah. Beranjak dari pemikiran ini, manakah yang lebih baik antara orang miskin yang sabar dengan orang kaya yang bersyukur? Seorang idealis mungkin akan memilih poin pertama, sebaliknya orang yang pragmatis akan memilih poin yang kedua. Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi tidak mudah untuk menjawabnya. Bahkan, para ulama telah berselisih pendapat mengenai hal ini. Abu Ishaq bin Syaqilan, Qadhi Abu Ya'la, dan para pengikutnya mengatakan bahwa orang miskin yang bersabar itu lebih baik. Sebaliknya, Ibnu Qutaibah dan jamaahnya berpendapat bahwa orang kaya yang bersyukur lebih baik. Jika kita runut ke belakang, kita akan temukan orang-orang miskin yang sabar, bahkan yang berpredikat nabi sekalipun. Mereka adalah Isa bin Maryam as, Yahya bin Zakaria as, Ali bin Abi Thalib, Abi Dzar Al-Ghifari, Mush'ab bin Umair, dan Salman AI-Farisi. Sedangkan orang-orang kaya yang bersyukur, di antaranya Ibrahim as, Ayub as, Dawud as, Sulaiman as, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubeir, Sa'ad bin Muadz ra, dan masih banyak lagi. Lalu mana yang paling baik?Kalau kebenaran kita sandarkan hanya kepada akal, jawaban tersebut tidak akan ditemukan. Tetapi jika standar kebenaran adalah Al-Qur`an, jawaban tersebut sangat jelas. Allah SWT berfirman :
يايها الناس انا جلقناكم من ذكر وانثى وجعلنا كم شعوبا وقبائل لتعارفوا ان اكرمكم عند الله اتقاكم ان الله عليم خبير
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian" (QS Al-Hujurat: 13).
Lalu, seperti apa takwa yang diinginkan Islam? Kalau kita kembali runut dalam Al-Qur'an jawabannya akan semakin terlihat. Allah SWT berfirman :
فتقو الله فرضا حسنا يضعفه ويغفر لكم والله شكر حليم
"Maka bertakwalah sesuai kadar kemampuan kalian." (QS At-Taghabun: 16)

Artinya, stressing point dari lafal "takwa" adalah proses, dalam hal ini adalah usaha. Yakni, usaha seorang hamba untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (QS AI-Hasr: 7).
Artinya, kebaikan bukan terletak pada kaya-miskinnya, tetapi lebih pada syukur dan sabarnya. Bertolak dari hal ini maka kita akan temukan golongan ketiga yang sangat sulit untuk dicari pada zaman ini. Golongan ini mendapat dua predikat sekaligus; miskin dan kaya. Karena kesederhanaannya golongan ini terlihat miskin, di sisi lain merupakan golongan orang yang berada dengan pendapatan yang melimpah. Dia adalah Nabi kita Muhammad saw. Wallahu a'lam.

Makalah Hak Asasi Manusia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah tentang HAM. Maka dengan ini penulis mengambil judul “Hak Asasi Manusia”.
Secara teoritis Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi. hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer), dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
  • Apa pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
  • Penjelasan Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global
  • Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia
  • Apa saja contoh-contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”.
Ruang lingkup HAM meliputi:
  1. Hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan lain-lain;
  2. Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;
  3. Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; serta
  4. Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.
Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.
2.2 Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global
Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama mengenai HAM ,yaitu:
a. Ham menurut konsep Negara-negara Barat
1) Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.
2) Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.
3) Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.
4) Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.
b. HAM menurut konsep sosialis;
1) Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat
2) Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.
3) Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.
c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:
1.Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.
2.Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama terhadap kepala keluarga
3.Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban sebagai anggota masyarakat.
d.HAM menurut konsep PBB;
Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Elenor Roosevelt dan secara resmi disebut Universal Decralation of Human Rights”.
Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang mempunyai:
Ø Hak untuk hidup
Ø Kemerdekaan dan keamanan badan
Ø Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum
Ø Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana
Ø Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara
Ø Hak untuk mendapat hak milik atas benda
Ø Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
Ø Hak untuk bebas memeluk agama
Ø Hak untuk mendapat pekerjaan
Ø Hak untuk berdagang
Ø Hak untuk mendapatkan pendidikan
Ø Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat
Ø Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.
2.3 Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia
Sejalan dengan amanat Konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan dan perlindungan HAM harus didasarkan pada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuanyang tidak dapat di pisahkan, baik dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan pasal 1 (3), pasal 55, dan 56 Piagam PBB upaya pemajuan dan perlindungan HAM harus dilakukan melalui sutu konsep kerja sama internasional yang berdasarkan pada prinsip saling menghormati, kesederajatan, dan hubungan antar negaraserta hukum internasional yang berlaku.
Program penegakan hukum dan HAM meliputi pemberantasan korupsi, antitrorisme, serta pembasmian penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum dan HAM harus dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif dan konsisten.
Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal berikut:
  1. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari 2004-2009 sebagai gerakan nasional
  2. Peningkatan efektifitas dan penguatan lembaga / institusi hukum ataupun lembaga yang fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia
  3. Peningkatan upaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga Negara di depan hukum melalui keteladanan kepala Negara beserta pimpinan lainnya untuk memetuhi/ menaati hukum dan hak asasi manusia secara konsisten serta konsekuen
  4. Peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hukum dan hak asasi manusia dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika masyarakat dapat berjalan sewajarnya.
  5. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan Rencana, Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi.
  6. Peningkatan penegakan hukum terhadao pemberantasan tindak pidana terorisme dan penyalahgunaan narkotika serta obat lainnya.
  7. Penyelamatan barang bukti kinerja berupa dokumen atau arsip/lembaga Negara serta badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hukum dan HAM.
  8. Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas penegakan hukum dan HAM.
  9. Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang transparan.
  10. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan proses hukum yang kebih sederhana, cepat, dan tepat serta dengan biaya yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
2.4 Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM
  1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.
  2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa.
  3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.
  4. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
  5. Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak yang berusia di atas 12 tahun, yang artinya hak untuk hidup anak-anak tersebut pun hilang
  6. Masyarakat kelas bawah mendapat perlakuan hukum kurang adil, bukti nya jika masyarakat bawah membuat suatu kesalahan misalkan mencuri sendal proses hukum nya sangat cepat, akan tetapi jika masyarakat kelas atas melakukan kesalahan misalkan korupsi, proses hukum nya sangatlah lama
  7. Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat penganiayaan dari majikannya
  8. Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh kalangan muda mudi yang kawin diluar nikah
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain.Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.
3.2 Saran-saran
Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain.Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan orang lain.